[ Follow Ups ] [ Post Followup ] [ NMS WWWBoard Version 1.0 ]
Posted by Sdr Yahya Hamid (192.169.41.34) on 22:51:16 04/07/06
Menjawab soalan yang dikemukakan Sdr Ismail Pantek:
Apakah bijak untuk meneruskan dasar penyebutan bahasa baku di sini?
Bagi saya, loghat yang digunakan kita sekarang ini merupakan loghat kesukuan (dialect) dan nampaknya hanya kita-kita saja yang faham sedangkan bila kita bercakap dengan orang bukan Melayu ataupun orang Indonesia kita akan mengalah dan menggunakan sebutan bahasa baku. Begitu juga bila kita bernyanyi!!
Mungkinkah kerana kita sendiri tidak yakin apakah orang lain akan memahami percakapan kita dengan sebutan yang kita gunakan?
Lagi pula - maaf kalau saya mengatakan - sebutan yang kita gunakan sekarang adalah ringan dan kedengaran seperti orang yang malas bercakap dan kurang percaya diri. Sebagai contoh, kiayai-kiayai dan artis-artis dari Indonesia lebih disenangi di Singapura - menurut saya selain dari faktor-faktor lain - adalah kerana mereka dapat menyampaikan syarahan, nyanyian mahupun lakonan dengan sebutan dan intonasi yang jelas, yakin dan menyakinkan.
Memang pada mulanya kita akan merasa kekok dan janggal menggunakan sebutan bahasa baku tapi kita akan merasa lebih selesa dan yakin bila kita sering menggunakannya.
Saya pernah merasakan sendiri waktu saya baru sampai di Indonesia dulu akan betapa kekok dan 'penatnya' berbahasa baku. Rahang saya terasa lenguh kerana harus buka mulut besar-besar bila berbicara. Jadi tidak hairanlah kalau kita juga merasa demikian sekarang ini bila menggunakan sebutan bahasa baku.
Saranan saya: Jangan putus asa kerana percakapan kita akan menjadi lebih jelas, yakin dan menyakinkan dengan sebutan bahasa baku. Hanya waktu akan membuktikan.
Mungkin yang membuat kedengaran aneh ialah kerana belum terbentuk - katakanlah - semacam "lagu" bila kita berbahasa baku. Tidak seperti Bahasa Indonesia (yang asas dan sumbernya adalah Bahasa Melayu).
Dengan menggunakan sebutan bahasa baku, kita akan lebih difahami oleh semua orang termasuk yang bukan dari bangsa Melayu. Malah kita mengajar Bahasa Melayu kepada orang bukan Melayu dengan sebutan bahasa baku sedangkan kita sendiri tidak menggunakannya. Kan aneh sekali.
Apakah perlu kita pertikaikan antara sebutan baku Indonesia, Brunei, Sabah/Serawak ataupun Singapura?
Mungkin Bahasa Inggeris tidak sepenting sekarang ini kalau dulunya dipertikaikan apakah yang digunakan itu sebutan Inggeris-Inggeris atau Inggeris-Amerika.
Tampaknya kita sering melihat "ke dalam" dalam merancang arah hidup kita. Saya menganggap bahwa Indonesia mempunyai potensi besar dalam berbagai-bagai hal. Saya kira, negara Indonesia akan menjadi lebih maju dan lebih makmur di masa depan, Insyaallah.
Sayangnya, masyarakat kita di sini lebih melihat negatifnya saja.
Saya yakin dengan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang Indonesia dan memahami budaya mereka, kita dan/atau generasi akan datang akan dapat meraih manfaat yang besar.
Sebagai perbandingan: Dapatkah Singapura menerobos masuk ke pasaran negara Cina sejak awal-awal lagi tanpa penguasaan Bahasa Mandarin? Jawabannya sudah jelas, saya kira.
Saya menyarankan kepada semua aktivis Bahasa Melayu dan media massa agar meningkatkan usaha ke arah penyatuan Bahasa. Lihat pendapat saya sebelum ini di: www.persadaku.org/wwwboard/messages/44.htm
Sekian pendapat saya.
Terima kasih.
Salam hormat,
Yahya Hamid
[ Follow Ups ] [ Post Followup ] [ NMS WWWBoard Version 1.0 ]